Bagi Anda yang bercita-cita menjadi penerjemah Presiden atau interpreter di Perserikatan Bangsa-Bangsa, tidak perlu menempuh pendidikan hingga ke luar negeri. Di Jakarta, tersedia program studi unggulan yang mampu mewujudkan impian tersebut. Program Studi Tarjamah, satu-satunya di Indonesia bahkan di Asia Tenggara, menjadi pilihan tepat bagi calon profesional di bidang penerjemahan Arab–Indonesia. Didirikan pada tahun 1997 di bawah naungan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prodi Tarjamah secara konsisten memperoleh akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Pencapaian ini mencerminkan kualitas kurikulum, fasilitas, dan sumber daya manusia yang memenuhi standar nasional untuk pendidikan tinggi bermutu. Sejak awal berdirinya, Prodi ini telah melahirkan lulusan yang sukses berkarier sebagai penerjemah, interpreter, penulis, penyunting, jurnalis media cetak dan elektronik, pelaku usaha penerbitan, serta berbagai profesi prestisius lainnya. Tak sedikit pula lulusan yang kini berkiprah sebagai akademisi dan peneliti di perguruan tinggi ternama, baik di dalam maupun luar negeri, serta di berbagai lembaga pemerintahan. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa Prodi Tarjamah hadir sebagai jawaban atas kebutuhan dan tantangan dunia kerja. Kurikulum yang dirancang secara integratif antara teori dan praktik menjadikan lulusannya siap bersaing di tingkat nasional dan internasional.
Dengan segala keunggulannya, Program Studi Tarjamah siap mengantarkan mahasiswanya meraih impian tidak hanya sebagai penerjemah atau interpreter profesional, tetapi juga sebagai editor, penulis, pengelola penerbitan, jurnalis, bahkan diplomat. Jika Anda penasaran dengan kelebihan Prodi ini, berikut lima alasan utama mengapa Prodi Tarjamah layak menjadi pilihan studi Anda:
1. Dosen Penerjemah Kepresidenan
Salah satu dosen utama Prodi Tarjamah adalah Abdul Wadud Kasyful Anwar, M.A., seorang penerjemah senior yang telah mendampingi Presiden RI sejak era Soeharto hingga Joko Widodo. Ia juga menjadi penerjemah resmi berbagai acara parlemen dan forum internasional bergengsi seperti Konferensi Asia-Afrika. Pak Wadud, begitu beliau akrab disapa, mengampu mata kuliah Penerjemahan Lisan. Di bawah bimbingannya, mahasiswa Prodi Tarjamah dibekali keterampilan sebagai interpreter profesional yang mampu tampil di forum-forum resmi negara, konferensi internasional, hingga sebagai pemandu wisata bersertifikasi. Salah satu bukti keberhasilannya adalah Faisal Abdurrahman, mahasiswa semester tujuh, yang berhasil menjadi interpreter dalam Konferensi Internasional Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) bersama Kementerian Ketenagakerjaan pada tahun 2015. Atas pencapaiannya tersebut, Faisal dianugerahi Student Achievement Award 2015.
2. Dosen Penyusun TOAFL Ber-HAKI
Jika dunia internasional mengenal TOEFL sebagai uji kompetensi bahasa Inggris, maka TOAFL (Test of Arabic as a Foreign Language) adalah alat ukur standar untuk kemampuan bahasa Arab, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) seperti UIN, IAIN, dan lainnya. TOAFL kini telah terdaftar sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) di Kementerian Hukum dan HAM. Salah satu penyusunnya adalah Drs. Ikhwan Azizi, M.A., yang merupakan dosen tetap Prodi Tarjamah. Kontribusi beliau menunjukkan betapa Prodi ini berada di garis depan dalam pengembangan pengukuran standar kompetensi bahasa Arab.
3. Inovasi Pengajaran Bahasa Arab Berbasis Android
Ali, alumnus Prodi Tarjamah angkatan 2009 yang lulus pada 2014, sukses mengembangkan Kamus Mutarjim, aplikasi berbasis Android yang telah diunduh lebih dari 100.000 kali dan mendapatkan ribuan ulasan positif. Aplikasi tersebut merupakan pengembangan dari skripsi Ali dan telah menginspirasi mahasiswa lainnya untuk membuat aplikasi serupa. Kini, Prodi Tarjamah juga telah meluncurkan UKOPAI (Uji Kompetensi Penerjemah Arab–Indonesia), sebuah aplikasi Android sebagai instrumen evaluasi kompetensi penerjemahan. Selain itu, Prodi ini tengah merancang aplikasi pembelajaran bahasa Arab untuk anak usia dini, serta berbagai platform digital lainnya yang sedang dikembangkan oleh dosen dan mahasiswa. Hal ini menegaskan bahwa Prodi Tarjamah tidak hanya responsif terhadap kebutuhan pasar, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi dalam pengajaran bahasa.
4. Dosen Praktisi di Bidang Penerjemahan Lisan dan Tulisan
Sebagian besar dosen di Prodi Tarjamah merupakan praktisi berpengalaman dalam bidang penerjemahan, baik lisan maupun tulisan. Di antaranya adalah Prof. Dr. A. Satori Ismail, Ketua Ikatan Dai Indonesia (IKADI) dan anggota Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), yang juga merupakan dosen tetap Prodi Tarjamah. Beliau telah menerbitkan sejumlah karya terjemahan yang berkontribusi dalam dunia keilmuan dan dakwah. Selain itu, Ketua Prodi Tarjamah saat ini, Dr. Moch. Syarif Hidayatullah, dikenal luas sebagai penerjemah, penyunting, dan penulis lebih dari 100 judul buku yang tersebar di berbagai bidang keilmuan. Keahlian dan kontribusinya menjadi inspirasi bagi sivitas akademika Prodi ini. Dosen lain seperti Drs. Saifullah Kamalie, Lc., M.Hum., Ph.D., juga memiliki reputasi sebagai penerjemah tersumpah, interpreter dalam berbagai konferensi, serta praktisi teknologi informasi dalam dunia penerjemahan (ICT Translation). Muhammad Zacky Mubarok, M.A., turut memperkuat barisan dosen praktisi melalui kiprahnya sebagai penerjemah, penulis, dan penyunting puluhan ensiklopedia ternama. Keteladanan para dosen inilah yang turut mendorong mahasiswa aktif untuk produktif sejak dini. Misalnya, Aa Maulana (semester 9) menerjemahkan Juz Amma, Hasin Abdullah (semester 5) menerjemahkan Dialog dengan Iblis, dan Murojab Nugraha (semester 5) menulis Kamus Bahasa Turki. Tidak sedikit pula mahasiswa yang menerbitkan karya mereka melalui penerbit-penerbit prestisius seperti Hikmah–Mizan (kini Noura Books), Serambi, dan lainnya—meneruskan tradisi alumni Prodi Tarjamah yang telah menorehkan prestasi serupa sejak masa studi.
5. Kurikulum Berbasis Transpreneurship yang Visioner
Prodi Tarjamah tidak hanya menyiapkan lulusan sesuai dengan profil kompetensi akademik, tetapi juga menanamkan jiwa transpreneurship sebagai bagian dari hidden curriculum. Pendekatan ini bertujuan agar mahasiswa tidak hanya menguasai keterampilan teknis (hard skills), tetapi juga memiliki kemampuan non-teknis (soft skills) yang menunjang kesiapan hidup di dunia kerja dan wirausaha. Melalui penguasaan keilmuan penerjemahan, penyuntingan, dan pengetahuan tentang industri penerbitan, mahasiswa didorong untuk mandiri dan inovatif. Prodi ini juga menawarkan mata kuliah khusus seperti ICT Arab dan ICT Penerjemahan, yang memperkuat literasi digital mahasiswa dalam konteks kebahasaan dan terjemahan. Berbagai kegiatan ekstrakurikuler dirancang untuk mendukung pengembangan keterampilan ini. Mahasiswa dapat bergabung dalam komunitas sesuai minat dan bakatnya, antara lain:
- Digtar (Desain Grafis Tarjamah): wadah bagi peminat desain grafis;
- Coffee Tar (Community of Arabic Film Translators): komunitas penerjemahan film Arab;
- Gutar (Guratan Tarjamah): bagi penggemar dunia tulis-menulis;
- Saktar (Sanggar Kaligrafi Tarjamah): untuk pencinta kaligrafi Arab;
- Sattar (Sanggar Tari Tarjamah): komunitas seni tari bagi mahasiswa yang berbakat di bidang seni pertunjukan.
Seluruh inisiatif ini menunjukkan bahwa Prodi Tarjamah tidak hanya fokus pada akademik semata, tetapi juga pada pembentukan lulusan yang adaptif, kreatif, dan siap menghadapi tantangan zaman.

